Bagaimana Pikiran Mempengaruhi Perasaan

“Hal apa yang paling dekat dengan perasaan? – Pikiran.”
“Untuk mengendalikan perasaan, kendalikan pikiran.”
“Pikiran mengkreasi rasa, rasa mengarahkan pikiran.”
“Ketika sesuatu bisa dilekati oleh kata, sesuatu itu menjadi ada.”
– Ikhwan Sopa –

Kita mungkin kurang menyadari satu hal ini, pikiran mempengaruhi perasaan dan perasaan mempengaruhi pikiran. Sangat mungkin, kita telah lama hidup di dalam kendaraan yang sopirnya adalah rasa. Padahal, rasa senang sekali jumpalitan. Ini saatnya bagi kita, untuk belajar bersama menjadi pengendali rasa. Sulit, tapi tetap dimungkinkan. Menarik, karena kita menjadi dimungkinkan hidup dan berjalan di dalam kestabilan pikiran dan ketenangan perasaan. Kita tahu, apa makna dari dua fenomena itu.

Kita mungkin sering mengira, bahwa perasaan muncul dan sirna begitu saja. Kita mungkin selama ini yakin, bahwa perasaan timbul dan tenggelam tanpa kendali. Kemudian, pikiran kita ditarik-ulur olehnya dengan cara yang semaunya.

Padahal, ketika sebuah rasa telah bisa dilekati sebuah nama, rasa itu adalah produk pikiran, sebab “menamai” adalah proses kerja pikiran. Padahal, bahkan ketika rasa itu tak mampu kita namai, kita mencemplungkannya ke dalam kelompok “tidak jelas”, dan “mengelompokkan” adalah juga proses kerja pikiran.

Menyadari bahwa pikiran mampu mempengaruhi perasaan, adalah sebuah penemuan yang menyenangkan. Jika pikiran mampu mempengaruhi perasaan, maka pikiran mampu menciptakan perasaan. Hmmm… ingin berbahagia? Ciptakan saja.

Untuk mampu mempengaruhi perasaan dengan pikiran, untuk menciptakan perasaan dengan pikiran, hal pertama yang perlu kita lakukan adalah mempercayai bahwa pikiran memang mampu melakukannya. Ingat kembali yang berikut ini:

– Kita sedang bersedih, dan sahabat kita menghibur lalu kita menjadi tersenyum atau tertawa.
– Anak kita sedang marah dan kecewa, lalu ia menjadi senang karena kita memberinya mainan.
– Kita dimarahi atasan, lalu kita membayangkannya sebagai badut, dan kita tersenyum dibuatnya.

Semua itu adalah pergeseran perasaan yang diciptakan oleh pikiran.

Setelah kita meyakini bahwa pikiran memang mampu mempengaruhi perasaan, langkah kita berikutnya adalah menggali berbagai kemungkinan dan pola-pola tentang bagaimana pikiran dapat mempengaruhi perasaan. Di antara pola-pola itu adalah yang berikut ini.

1. Jebakan Kebiasaan Berpikir

Jika kita berulang-ulang mengalami perasaan tertentu, maka itu berarti pada saat yang sama kita juga mengulang-ulang cara berpikir tertentu. Misalnya, kebiasaan menyalahkan orang lain terkait dengan ketidaknyamanan yang kita rasakan. Ketika kita belum menyadari bahwa pikiran mempengaruhi perasaan, maka perasaan yang muncul dapat mengarahkan pikiran ke wilayah tidak nyaman.

“Saya merasa tidak nyaman.” – Ini perasaan.
“Saya terganggu olehnya.” – Ini pikiran, produk dari perasaan.
“Dia mengecewakan saya.” – Ini pikiran, produk dari perasaan.

Pikiran-pikiran itu terus diulang di bawah kendali perasaan tidak nyaman, lalu berkembang menjadi kebiasaan berpikir.

Perhatikan ini:

Jika ada yang “terganggu”, maka ada yang “mengganggu”.

Renungkan ini:

Benarkah dia “mengganggu” saya? Jika “gangguan” itu tidak bersifat fisik, benarkah dia secara ajaib dari jarak jauh telah mengganggu saya? Sehebat itukah dia hingga mampu mengendalikan saya dengan kekuatan magis atau telepatis? Benarkah dia telah “membuat” saya kecewa? Sedahsyat itukah kekuatan dia, hingga mampu “menjadikan” saya seolah seperti boneka mainannya?

Inilah yang terjadi:

Perasaan saya telah mengarahkan pikiran saya, masuk ke dalam lingkaran yang membuat saya makin tenggelam sebagai korban. Saya telah sepenuhnya menyerahkan kekuatan pikiran saya kepada orang lain. Saya telah secara resmi menyerahkan kunci kendali hidup saya kepada orang lain. Saya berada di bawah kekuasaannya. Saya tidak lagi merdeka. Bagaimana rasanya?

2. Labelling

Tanpa sengaja, kita mungkin terbiasa melekati pribadi orang lain dengan label-label dan atribut-atribut.

“Kamu ini brengsek.”
“Kamu bangsat.”
“Dasar tak tahu diri.”
“Dasar kikuk.”
“Kamu ini memang tak bisa apa-apa.”
“Saya ini goblok.”
“Saya ini pecundang.”
“Saya memang selalu gagal.”

Labelling dan atribusi menyedikitkan pilihan. Atau, bahkan menghilangkannya. Kita telah menyedikitkan kesempatan untuk tumbuh lebih pantas, dan kita telah meniadakan peluang untuk berkembang menjadi lebih baik. Kita menjadi semakin lemah dan helpless, mengidap stres dan depresi. Sekali kita menerimanya, kita tak berangkat kemana-mana. Kita telah terpenjara. Bagaimana rasanya?

3. Saringan Mental

Saringan mental kita yang utama adalah keyakinan atau belief. Kita cenderung lebih fokus pada segala informasi yang mendukung atau bersesuaian dengan keyakinan kita. Kita cenderung menghindari apapun yang bertentangan dengan keyakinan kita.

Dengan semua itu, kita terus “membuktikan” bahwa keyakinan kita benar adanya. Semakin lama, kita merasa semakin yakin dan semakin yakin. Bagaimana jika ternyata keyakinan itu salah? Salah karena tidak benar atau salah karena salah arah?

Agar keyakinan tidak salah, ia perlu disandingkan dengan yang benar.

Maka, kebenaran yang manakah yang kita jadikan acuan?

Bercerainya “tidak salah” dari “benar” akan menyobek dan mengoyak perasaan.

4. Generalisasi

Kita mungkin terbiasa begini. Ketika seseorang berperilaku buruk, dan lalu kita memutuskan untuk tidak menyukainya, kita mengatakan, “dia memang tak pernah berperilaku baik.”

“Tidak pernah.”
“Selalu.”

Ketika kita salah menggunakannya, kedua kata itu hanya menegaskan hal-hal buruk yang berpengaruh buruk terhadap perasaan.

5. All or Nothing

Kenyataan, bukanlah semata-mata hitam atau putih. 0 dan 1 adalah logika. Itu namanya pikiran. Apa yang di antaranya adalah tentang perasaan. Ketika yang di antara itu dihilangkan, rasanya menjadi membingungkan. Seperti kebun yang bunga-bunganya hanya ada hitam dan putih. Seperti pilihan yang ditawarkan perampok, hidup atau mati. Seperti diharuskan memakan buah simalakama.

(Kecuali, jika kita menyadari bahwa pikiran memang sedang menyengajakan. Itu namanya memilih. Itu sebabnya, bingung memilih rasanya tidak enak. Itu sebabnya, jika memilih dan tetap merasa tidak enak, maka itu berarti pilihan belum tegas karena belum jernih.)

Apa rasanya ini?

“Saya bukan juara satu, ngapain repot-repot belajar.”
“Saya juara satu, saya harus belajar sebelas jam sehari.”
“Saya juara satu, ngapain repot-repot belajar.”
“Saya bukan juara satu, saya harus belajar sebelas jam sehari.”


“Kalo saya jarang sakit, ngapain saya menjaga kesehatan.”
“Saya emang gak bisa kurus kok. Sikat aja semua.”

Ke-lebay-an yang menciptakan harapan yang sulit atau bahkan tidak mungkin dicapai.

Sekarang, apa sih rasanya mempersulit diri? Dan nanti, rasa kecewa itu hampir pasti.

6. Pernyataan dan Keyakinan “Harus”

Hidup ini sederhana; intinya perbedaan. Maka sederhana saja, jika kita memegang “harus” yang tidak tepat, maka apa yang “berbeda” akan merusak perasaan.

7. Bagaimana Jika…?

Pikiran kita menerawang jauh ke depan, dan lalu perasaan kita mengartikannya seolah telah terjadi. Apa rasanya?

8. Membaca Isi Kepala Orang

“Dia tidak tersenyum. Dia benci saya.”
“Dia tersenyum. Dia menyukainya.”

Padahal, dia sedang menimbang apa yang terbaik untuk dipersembahkan kepada kita. Padahal, senyumnya kecut.

Ke-sotoy-an yang melenceng kemana-mana. Membaca tanda-tanda ada caranya. Jika tidak diklarifikasi, perasaan akan menyesal.

9. Pola Pikir Tak Terafirmasi Tak Terkodifikasi

Pikiran kita adalah template untuk bahasa subyektif kita. Mengenali cara kerja pikiran kita tidak langsung memampukan kita mengubahnya. Kita perlu menemukan proses-proses dan pola-pola yang tidak memberdayakan, lalu menggantinya dengan yang memberdayakan. Kita membutuhkan daftar pola-pola pikiran yang memberdayakan dan saling menguatkan. Tanpa itu, akan selalu ada elemen pensabotase keseluruhan pikiran kita. Itu, akan mensabotase perasaan.

Tanpa itu keutuhan daftar itu, sebuah keyakinan akan langsung roboh ketika ia diuji oleh kehidupan. Sebab ia mungkin berjalan sendiri dan kesepian. Ia butuh teman, ia butuh kelompok dan organisasi keyakinan. Ia juga mengerti “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”. Daftar itu – 35 jumlah poinnya, ada di buku saya. Judulnya “Manajemen Pikiran Dan Perasaan“. Cari di toko buku, cari di rak (mungkin di rak “buku baru”, atau “buku laris” atau “psikologi” atau “pengembangan diri”). Atau, cari tahu di database komputer mereka. Atau, dapatkan secara online di sini. Semoga membantu.

Bagaimana menghibur perasaan?

1. Sadari pikiran dan pola pikir yang merusak perasaan
2. Berlatihlah mengabaikannya
3. Jika perasaan terlanjur terjebak dalam ketidaknyamanan, kembalilah ke no.1
4. Afirmasikan daftar “35” yang terkodifikasi di atas, hingga perasaan teryakinkan.

Semoga bermanfaat.

Note:
– Pointer by Jerry Waxler.
– Note ini tidak ada di buku saya.

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
Founder, Penulis, “Manajemen Pikiran Dan Perasaan”

Leave a comment

Filed under Books, manajemen pikiran dan perasaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s