Free eBook – Buku Gratis

Dapatkan buku gratis:

 

1. 100 Artikel: Tips dan Trik Berbicara Di Depan Orang Banyak.

2. Anak buku “Manajemen Pikiran dan Perasaan”.

 

Silahkan mengunjungi link ini:

 

http://qacomm.com/free-ebook.html

 

Semoga bermanfaat.

Leave a comment

Filed under Books, Buku Gratis, Free eBook

Pembicara Motivasi

Jika Anda membutuhkan pembicara motivasi, silahkan mengunjungi situs ini:

http://qacomm.com/pembicara.html

Semoga bermanfaat.

Leave a comment

Filed under Pembicara Motivasi

In House Training “Manajemen Pikiran Dan Perasaan”

In House Training "Manajemen Pikiran Dan Perasaan"

In House Training "Manajemen Pikiran Dan Perasaan"

Alhamdulillah mulai bergulir.
In House Training pertama “Manajemen Pikiran Dan Perasaan”
Jakarta, 25 Mei 2011.

Leave a comment

Filed under Books, buku, in house training, manajemen pikiran dan perasaan, seminar, training

Bedah Buku Dan Seminar Introduksi “Manajemen Pikiran Dan Perasaan”

Dear all, berikut ini kami informasikan event kami berikutnya.

Bedah Buku Dan Seminar Introduksi “Manajemen Pikiran Dan Perasaan”

Hari/tanggal :
Sabtu, 28 Mei 2011

Waktu :
15.00 WIB s/d selesai

Tempat :
Telaga Sea Food, BSD City (Dekat BSD Junction)

Kontribusi:
Rp 50.000,- per orang

Registrasi:
Novi atau Lisa – 021-5529959

Transfer:
BCA 071 2024 7977 atau Mandiri 155 000 249 2158
(Paling lambat Jumat 27 Mei 2011)

Acara:
Bedah Buku dan Seminar Introduksi, bersama Ikhwan Sopa, penulis buku “Manajemen Pikiran Dan Perasaan“.

Info tambahan.

Bagaimana Pikiran Mempengaruhi Perasaan:
http://blog.qacomm.com/2011/05/bagaimana-pikiran-mempengaruhi-perasaan.html

Format Bedah Buku “Manajemen Pikiran Dan Perasaan”:
http://blog.qacomm.com/2011/05/format-bedah-buku-manajemen-pikiran-dan.html

Tips Membaca Buku “Manajemen Pikiran Dan Perasaan”:
http://blog.qacomm.com/2011/04/tips-membaca-buku-manajemen-pikiran-dan.html

“Manajemen Pikiran Dan Perasaan” – Why?:
http://blog.qacomm.com/2011/04/manajemen-pikiran-dan-perasaan-why.html

Free ebook Anak Buku “Manajemen Pikiran Dan Perasaan” dan Audio Streaming “Manajemen Pikiran Dan Perasaan”:
http://qacomm.com/docs/Manajemen-Pikiran-Dan-Perasaan.pdf

Demikian, semoga bermanfaat.

Terimakasih, tetap semangaat!

Ikhwan Sopa

Leave a comment

Filed under Books, buku, manajemen pikiran dan perasaan, seminar

Praktisi Non-Sertifikasi “Manajemen Pikiran Dan Perasaan”

Flow

Flow

“Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara.”

(QS-Ar-Rahman: 3-4)

Dear all, berikut ini adalah sekedar sharing tentang bagaimana menguasai buku dan skill “Manajemen Pikiran Dan Perasaan“. Semoga membantu menjadikan kita pembelajar dan praktisi yang bermanfaat bagi diri sendiri, bagi orang lain, dan bagi ibadah kita.

RESET POLARISASI

Setiap kita mempunyai tujuan. Setiap tujuan menentukan jalan. Setiap jalan mendefinisikan diri dan kehidupan. Kita mungkin kurang menyadari, hingga selama ini kita berjalan secara otomatis dan terseok-seok in-track, out-of-track, in-track, out-of-track, in-track, out-of-track dan seterusnya.

Kita tak dapat begitu saja menyanggahnya dengan mengatakan, “Ya sudah jelas dong boo?!

Lebih bijaksana jika kita melakukan reset, dengan menetapkan dan menegaskan kembali pilihan dasar kita, misalnya bahagia atau sengsara, senang atau susah, berhasil atau gagal, fujur atau taqwa, dan seterusnya. Kemudian, tetapkan dan tegaskanlah pada diri kita sendiri, bahwa dengan polarisasi ini kita telah memilih untuk meletakkan fisik, pikiran, dan perasaan agar berjalan bersama secara harmonis di jalur atau “the path” dalam rangka memenuhi harapan dan cita-cita dengan integritas internal.

Note:

1. Pertimbangkan ini, “fitrah” dan “kontrak awal dengan Tuhan”.

2. Sebagian orang akan mengatakan bahwa ini adalah sebentuk “pemerkosaan“. Bisa jadi, tapi inilah pilihan. Pilihan awal kita. “Manajemen Pikiran Dan Perasaan” adalah sebentuk pilihan untuk menjalani “the path”. Dipilih atau tidak, tergantung setiap kita sendiri.

PENDEFINISIAN MAKNA

Setiap kita ingin hidup yang bermakna. “Pemaknaan” dan “memaknai” adalah kata kerja. Makna adalah hasil dari proses-proses. Proses kerja memerlukan alat dan perlengkapan untuk memaknai. Alat dan perlengkapan itu, di antaranya adalah “pikiran” dan “perasaan“. Keduanya saling mempengaruhi.

Untuk menjaga kelurusan “the  path” kita butuh secara konsisten dan periodik keluar dan menjadi pengamat atas konsistensi keduanya terhadap “the path“. “The path” di-ideal-kan sebagai sesuatu yang lurus. Sebab, waktu kita terbatas. Inilah yang disebut dengan “Manajemen Pikiran Dan Perasaan“.

Kita telah lama terampil hidup dengan “perasaan yang mempengaruhi pikiran“. Pilihan kita kini adalah berlatih untuk hidup dengan “pikiran yang mempengaruhi perasaan“. Dengan keterampilan baru ini, kita bisa berharap bahwa kedua keterampilan ini akan menjadi seimbang. Dengan keseimbangan ini kita dapat berharap makna-makna hidup kita pun menjadi seimbang. Dengan keseimbangan, semoga kita tidak mudah menjadi gamang dalam meniti “the path“.

Kita telah terbiasa dengan “perasaan menciptakan pikiran“. Pilihan kita kini adalah berlatih membiasakan diri dengan “pikiran menciptakan perasaan“. “Makna” adalah “pemaknaan“. “Pemaknaan” adalah pelekatan pengertian-pengertian. Pengertian-pengertian kita definisikan secara terbatas dengan nama-nama dan kata-kata alias bahasa. Makna, dimulai dengan “nama” dan “kata“.

“Ketika sesuatu bisa dilekati dengan kata, sesuatu itu menjadi ada.”

Keberadaan adalah tentang perwujudan-perwujudan. Makna-makna di dalam hidup kita adalah tentang bentuk-bentuk manifestasi alias perwujudan. Dari “tidak ada” menjadi “ada”. Dari “belum” menjadi “sudah”. Dari “kini” menjadi “akan”. Dari “belum tercapai” menjadi “tercapai”. Dari “belum menjadi” ke “menjadi”. Dari “belum memiliki” menjadi “memiliki”. Semua itu, adalah esensi dari setiap tujuan dan cita-cita.

Note:

 

Pertimbangkan untuk memperbesar peluang ini, “hidayah” dan “ilham“.

SIKLUS

Setiap tujuan dicapai dengan bertindak. Di belakang setiap tindakan ada keputusan. Di belakang setiap keputusan ada sikap. Di belakang setiap sikap ada keyakinan. Setiap yang kita pikirkan dan rasakan, disadari atau tidak disadari, selalu ditopang oleh bentuk-bentuk keyakinan. Pikiran dan perasaan adalah dua hal terdekat yang setiap saat berlangsung di dalam diri kita. Kedekatan ini, memungkinkan kita lebih mudah memahami berbagai sinyal terkait dengan kelurusan “the path“. Kemudahan ini, dimungkinkan oleh sederhananya tuntutan untuk menangkap sinyal-sinyal tanpa harus berilmu tinggi dan tanpa harus berpengetahuan dalam. Cukup dengan “common sense“, cukup dengan “hati nurani“. Tuhan Maha Adil, Tuhan Maha Pemurah.

Praktek “Manajemen Pikiran Dan Perasaan” adalah praktek instalasi “belief system“. Sebagai beliefs, 35 beliefs dalam “”Manajemen Pikiran Dan Perasaan” erat hubungannya dengan “perasaan” yang saling mempengaruhi satu sama lain. Sebagai “system“, 35 beliefs dalam “”Manajemen Pikiran Dan Perasaan” erat hubungannya dengan “pikiran” yang saling mempengaruhi satu sama lain. Sebagai “belief system“, 35 beliefs dalam “”Manajemen Pikiran Dan Perasaan” adalah struktur yang mendasari bangunan pikiran dan perasaan di mana kita hidup di dalamnya. Sistem ini idealnya kongruen dan holistik alias menyeluruh.

Satu keyakinan terkait dengan keyakinan yang lain, satu pikiran terpaut dengan pikiran yang lain, dan satu perasaan berhubungan dengan perasaan yang lain. Begitu pula, antar keyakinan, pikiran, dan perasaan itu sendiri. Setiapnya tidak dapat berdiri sendiri, melainkan harus bekerjasama saling mendukung dan saling menguatkan.

Note: Pertimbangkan ini, “iman” dan “akidah“.

MODEL

“Manajemen Pikiran Dan Perasaan” dibangun oleh tiga “core beliefs” yang menjadi fondasi “belief system” yang akan diinstall secara keseluruhan, yaitu “diri“, “proses, dinamika, dan dunia“, dan “sukses, berhasil, dan cita-cita“.

The Path: “Diri” –> “Proses, dinamika, dan dunia” –> “Sukses, berhasil, dan cita-cita

1. Beliefs tentang fenomena “diri sendiri“.

Bab 1,3,4,5,21,23,24,29,30 dan 32.

2. Beliefs tentang “proses, dinamika, dan dunia“.

Bab 2,6,7,8,9,10,11,14,15,16,17,22,26,27,28,31,33 dan 34.

3. Beliefs tentang “sukses, berhasil, dan cita-cita

Bab 12,13,18,19,20,25 dan 35.

Note: Pertimbangkan ini,

Asal: Jakarta, Tujuan: Bandung, Rute: Cipularang, Puncak, Purwakarta, atau Cikampek.

FLOW

“Pikiran” dan “Perasaan” adalah “content“. “Keyakinan” adalah “energi“. Seperti “siaran radio” yang berjalan di atas “gelombang elektromagnetik“. Apapun keyakinan, ketika tertuangkan ke dalam kata-kata, ia menjadi produk dari “pikiran”, ia menjadi penyederhanaan dari “energi”. Itu sebabnya, “content” saja tidak cukup sebab “energi”-nya telah tereduksi ke dalam terbatasnya bahasa dan kemampuan melekatkan pengertian. “Energi” itu bisa diaktifkan kembali alias dikembalikan ke kekuatan asalnya, dengan kombinasi “pikiran” dan “perasaan”. Kombinasi itu adalah “keyakinan“. Energi itu adalah keyakinan.

Kita hidup di dalam sebuah tempat yang kita sebut dengan dunia. Bekerjasama dengannya-lah, kita menjalani “the path” untuk mencapai tujuan. Kerjasama itu, kita jalani semaksimal mungkin dengan “bahasa yang sama“. Bahasa energi, bahasa keyakinan. Kerjasama itu, berbentuk aliran-aliran dan sinkronisasi berbagai hal dan komponen yang menjadi wahana dan jalan bagi kita untuk sampai ke tujuan.

Aliran-aliran keyakinan itu, dapat disederhanakan menjadi aliran keluar dan aliran ke dalam (inflows dan outflows, contoh outflows: “the power of giving“, contoh inflows: “the power of doa“) dan aliran ke atas dan aliran ke bawah (upstream dan downstream, contoh upstream: “the power of gratitude“, contoh downstream: “Tuhan Maha Pengasih Dan Maha Penyayang, Tuhan Maha Adil“).

Seluruh aliran itu dieksekusi dengan keharmonisan sikap, keputusan, dan tindakan, di dalam bentuk-bentuk keyakinan, yang identifikasinya adalah “pikiran” dan “perasaan”.

Note: Pertimbangkan ini,

- Tuhan, “niat“, dan “ibadah“.

- “Iman itu setengahnya sabar, setengahnya lagi syukur.” (Ibnul Qayyim)

- “Tugas khalifah adalah to uphold the religion and to administer the world.” (Yusuf Qardhawi)

CONTOH

Seseorang menyuntikkan ke dalam dirinya keyakinan “saya bisa” (Bab 25 “Jika Kita Butuh Maka Kita Mampu“). Untuk mempermudah, ia menilai keyakinan itu dengan skala 9 (dalam 1-10). Kemudian, keyakinan itu diuji oleh kehidupan di dunia nyata. Keyakinan itu runtuh. Mengapa?

Sebenarnya, keyakinan itu tak pantas runtuh karena itu sama saja dengan mengganti keyakinan di polaritas yang berseberangan, yaitu “saya tidak bisa” (kecuali yang diinginkannya memang mustahil adanya, ingat lagi “common sense“). Keyakinan itu lebih patut dipertahankan, dengan mengaktivasi keyakinan yang menjadi pendukungnya, misalnya:

- Bab 18 “Mengapa Tindakan Dibutuhkan

- Bab 27 “Sabar, Syukur, dan Menerima Adalah Stamina

- Bab 29 “Tak Ada yang Salah, yang Ada Pelajaran

- Bab 30 “Tak Ada Gagal, yang Ada Umpan Balik

Orang itu lebih pantas mempertanyakan, apakah dalam hal keyakinan-keyakinan yang disebutkan itu, ia juga dapat menilai bahwa semua itu berskala 9 atau yang mendekati, atau malah bermagnitude 6 ke bawah?

LATIHAN AWAL

Siapkan kertas dan tuliskan yang berikut ini:

- Urutkan berdasarkan tingkat keyakinan, dari yang “paling yakin” menuju yang “paling kurang yakin“, setiap keyakinan di dalam masing-masing kelompok “core beliefs“. Jika mungkin berilah skala kuantitatifnya, supaya lebih mudah dianalisis.

- Cerminkan ke dalam hidup kita, dan temukanlah refleksinya dalam berbagai bentuk “keberhasilan“, “pencapaian“, “kelemahan“, “kendala“, “hambatan“, “masalah“, dan sebagainya.

- Temukanlah hubungan-hubungan di antara berbagai keyakinan, yang saling menguatkan dan yang saling melemahkan karena intensitas energinya (kuat atau lemah).

END NOTE

Kebenaran hanyalah milik Allah SWT, ini hanya pembelajaran.

Jika Anda mempertanyakan semua ini, keyakinan apakah yang ada di balik pertanyaan Anda?

“Feeling bad is a good thing. Negative feelings mean you’re going the wrong way.” (SP)

Note ini tidak ada di buku saya.

Semoga bermanfaat.

Ikhwan Sopa

Master Trainer E.D.A.N.

Founder http://pikiranperasaan.org

Penulis “Manajemen Pikiran Dan Perasaan”

http://www.penerbitzaman.com/code.php?index=Katalog&op=tampilbuku&bid=118

Leave a comment

Filed under manajemen pikiran dan perasaan, training

Bagaimana Pikiran Mempengaruhi Perasaan

“Hal apa yang paling dekat dengan perasaan? – Pikiran.”
“Untuk mengendalikan perasaan, kendalikan pikiran.”
“Pikiran mengkreasi rasa, rasa mengarahkan pikiran.”
“Ketika sesuatu bisa dilekati oleh kata, sesuatu itu menjadi ada.”
- Ikhwan Sopa –

Kita mungkin kurang menyadari satu hal ini, pikiran mempengaruhi perasaan dan perasaan mempengaruhi pikiran. Sangat mungkin, kita telah lama hidup di dalam kendaraan yang sopirnya adalah rasa. Padahal, rasa senang sekali jumpalitan. Ini saatnya bagi kita, untuk belajar bersama menjadi pengendali rasa. Sulit, tapi tetap dimungkinkan. Menarik, karena kita menjadi dimungkinkan hidup dan berjalan di dalam kestabilan pikiran dan ketenangan perasaan. Kita tahu, apa makna dari dua fenomena itu.

Kita mungkin sering mengira, bahwa perasaan muncul dan sirna begitu saja. Kita mungkin selama ini yakin, bahwa perasaan timbul dan tenggelam tanpa kendali. Kemudian, pikiran kita ditarik-ulur olehnya dengan cara yang semaunya.

Padahal, ketika sebuah rasa telah bisa dilekati sebuah nama, rasa itu adalah produk pikiran, sebab “menamai” adalah proses kerja pikiran. Padahal, bahkan ketika rasa itu tak mampu kita namai, kita mencemplungkannya ke dalam kelompok “tidak jelas”, dan “mengelompokkan” adalah juga proses kerja pikiran.

Menyadari bahwa pikiran mampu mempengaruhi perasaan, adalah sebuah penemuan yang menyenangkan. Jika pikiran mampu mempengaruhi perasaan, maka pikiran mampu menciptakan perasaan. Hmmm… ingin berbahagia? Ciptakan saja.

Untuk mampu mempengaruhi perasaan dengan pikiran, untuk menciptakan perasaan dengan pikiran, hal pertama yang perlu kita lakukan adalah mempercayai bahwa pikiran memang mampu melakukannya. Ingat kembali yang berikut ini:

- Kita sedang bersedih, dan sahabat kita menghibur lalu kita menjadi tersenyum atau tertawa.
– Anak kita sedang marah dan kecewa, lalu ia menjadi senang karena kita memberinya mainan.
– Kita dimarahi atasan, lalu kita membayangkannya sebagai badut, dan kita tersenyum dibuatnya.

Semua itu adalah pergeseran perasaan yang diciptakan oleh pikiran.

Setelah kita meyakini bahwa pikiran memang mampu mempengaruhi perasaan, langkah kita berikutnya adalah menggali berbagai kemungkinan dan pola-pola tentang bagaimana pikiran dapat mempengaruhi perasaan. Di antara pola-pola itu adalah yang berikut ini.

1. Jebakan Kebiasaan Berpikir

Jika kita berulang-ulang mengalami perasaan tertentu, maka itu berarti pada saat yang sama kita juga mengulang-ulang cara berpikir tertentu. Misalnya, kebiasaan menyalahkan orang lain terkait dengan ketidaknyamanan yang kita rasakan. Ketika kita belum menyadari bahwa pikiran mempengaruhi perasaan, maka perasaan yang muncul dapat mengarahkan pikiran ke wilayah tidak nyaman.

“Saya merasa tidak nyaman.” – Ini perasaan.
“Saya terganggu olehnya.” – Ini pikiran, produk dari perasaan.
“Dia mengecewakan saya.” – Ini pikiran, produk dari perasaan.

Pikiran-pikiran itu terus diulang di bawah kendali perasaan tidak nyaman, lalu berkembang menjadi kebiasaan berpikir.

Perhatikan ini:

Jika ada yang “terganggu”, maka ada yang “mengganggu”.

Renungkan ini:

Benarkah dia “mengganggu” saya? Jika “gangguan” itu tidak bersifat fisik, benarkah dia secara ajaib dari jarak jauh telah mengganggu saya? Sehebat itukah dia hingga mampu mengendalikan saya dengan kekuatan magis atau telepatis? Benarkah dia telah “membuat” saya kecewa? Sedahsyat itukah kekuatan dia, hingga mampu “menjadikan” saya seolah seperti boneka mainannya?

Inilah yang terjadi:

Perasaan saya telah mengarahkan pikiran saya, masuk ke dalam lingkaran yang membuat saya makin tenggelam sebagai korban. Saya telah sepenuhnya menyerahkan kekuatan pikiran saya kepada orang lain. Saya telah secara resmi menyerahkan kunci kendali hidup saya kepada orang lain. Saya berada di bawah kekuasaannya. Saya tidak lagi merdeka. Bagaimana rasanya?

2. Labelling

Tanpa sengaja, kita mungkin terbiasa melekati pribadi orang lain dengan label-label dan atribut-atribut.

“Kamu ini brengsek.”
“Kamu bangsat.”
“Dasar tak tahu diri.”
“Dasar kikuk.”
“Kamu ini memang tak bisa apa-apa.”
“Saya ini goblok.”
“Saya ini pecundang.”
“Saya memang selalu gagal.”

Labelling dan atribusi menyedikitkan pilihan. Atau, bahkan menghilangkannya. Kita telah menyedikitkan kesempatan untuk tumbuh lebih pantas, dan kita telah meniadakan peluang untuk berkembang menjadi lebih baik. Kita menjadi semakin lemah dan helpless, mengidap stres dan depresi. Sekali kita menerimanya, kita tak berangkat kemana-mana. Kita telah terpenjara. Bagaimana rasanya?

3. Saringan Mental

Saringan mental kita yang utama adalah keyakinan atau belief. Kita cenderung lebih fokus pada segala informasi yang mendukung atau bersesuaian dengan keyakinan kita. Kita cenderung menghindari apapun yang bertentangan dengan keyakinan kita.

Dengan semua itu, kita terus “membuktikan” bahwa keyakinan kita benar adanya. Semakin lama, kita merasa semakin yakin dan semakin yakin. Bagaimana jika ternyata keyakinan itu salah? Salah karena tidak benar atau salah karena salah arah?

Agar keyakinan tidak salah, ia perlu disandingkan dengan yang benar.

Maka, kebenaran yang manakah yang kita jadikan acuan?

Bercerainya “tidak salah” dari “benar” akan menyobek dan mengoyak perasaan.

4. Generalisasi

Kita mungkin terbiasa begini. Ketika seseorang berperilaku buruk, dan lalu kita memutuskan untuk tidak menyukainya, kita mengatakan, “dia memang tak pernah berperilaku baik.”

“Tidak pernah.”
“Selalu.”

Ketika kita salah menggunakannya, kedua kata itu hanya menegaskan hal-hal buruk yang berpengaruh buruk terhadap perasaan.

5. All or Nothing

Kenyataan, bukanlah semata-mata hitam atau putih. 0 dan 1 adalah logika. Itu namanya pikiran. Apa yang di antaranya adalah tentang perasaan. Ketika yang di antara itu dihilangkan, rasanya menjadi membingungkan. Seperti kebun yang bunga-bunganya hanya ada hitam dan putih. Seperti pilihan yang ditawarkan perampok, hidup atau mati. Seperti diharuskan memakan buah simalakama.

(Kecuali, jika kita menyadari bahwa pikiran memang sedang menyengajakan. Itu namanya memilih. Itu sebabnya, bingung memilih rasanya tidak enak. Itu sebabnya, jika memilih dan tetap merasa tidak enak, maka itu berarti pilihan belum tegas karena belum jernih.)

Apa rasanya ini?

“Saya bukan juara satu, ngapain repot-repot belajar.”
“Saya juara satu, saya harus belajar sebelas jam sehari.”
“Saya juara satu, ngapain repot-repot belajar.”
“Saya bukan juara satu, saya harus belajar sebelas jam sehari.”


“Kalo saya jarang sakit, ngapain saya menjaga kesehatan.”
“Saya emang gak bisa kurus kok. Sikat aja semua.”

Ke-lebay-an yang menciptakan harapan yang sulit atau bahkan tidak mungkin dicapai.

Sekarang, apa sih rasanya mempersulit diri? Dan nanti, rasa kecewa itu hampir pasti.

6. Pernyataan dan Keyakinan “Harus”

Hidup ini sederhana; intinya perbedaan. Maka sederhana saja, jika kita memegang “harus” yang tidak tepat, maka apa yang “berbeda” akan merusak perasaan.

7. Bagaimana Jika…?

Pikiran kita menerawang jauh ke depan, dan lalu perasaan kita mengartikannya seolah telah terjadi. Apa rasanya?

8. Membaca Isi Kepala Orang

“Dia tidak tersenyum. Dia benci saya.”
“Dia tersenyum. Dia menyukainya.”

Padahal, dia sedang menimbang apa yang terbaik untuk dipersembahkan kepada kita. Padahal, senyumnya kecut.

Ke-sotoy-an yang melenceng kemana-mana. Membaca tanda-tanda ada caranya. Jika tidak diklarifikasi, perasaan akan menyesal.

9. Pola Pikir Tak Terafirmasi Tak Terkodifikasi

Pikiran kita adalah template untuk bahasa subyektif kita. Mengenali cara kerja pikiran kita tidak langsung memampukan kita mengubahnya. Kita perlu menemukan proses-proses dan pola-pola yang tidak memberdayakan, lalu menggantinya dengan yang memberdayakan. Kita membutuhkan daftar pola-pola pikiran yang memberdayakan dan saling menguatkan. Tanpa itu, akan selalu ada elemen pensabotase keseluruhan pikiran kita. Itu, akan mensabotase perasaan.

Tanpa itu keutuhan daftar itu, sebuah keyakinan akan langsung roboh ketika ia diuji oleh kehidupan. Sebab ia mungkin berjalan sendiri dan kesepian. Ia butuh teman, ia butuh kelompok dan organisasi keyakinan. Ia juga mengerti “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”. Daftar itu – 35 jumlah poinnya, ada di buku saya. Judulnya “Manajemen Pikiran Dan Perasaan“. Cari di toko buku, cari di rak (mungkin di rak “buku baru”, atau “buku laris” atau “psikologi” atau “pengembangan diri”). Atau, cari tahu di database komputer mereka. Atau, dapatkan secara online di sini. Semoga membantu.

Bagaimana menghibur perasaan?

1. Sadari pikiran dan pola pikir yang merusak perasaan
2. Berlatihlah mengabaikannya
3. Jika perasaan terlanjur terjebak dalam ketidaknyamanan, kembalilah ke no.1
4. Afirmasikan daftar “35” yang terkodifikasi di atas, hingga perasaan teryakinkan.

Semoga bermanfaat.

Note:
- Pointer by Jerry Waxler.
- Note ini tidak ada di buku saya.

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
Founder, Penulis, “Manajemen Pikiran Dan Perasaan”

Leave a comment

Filed under Books, manajemen pikiran dan perasaan

Manajemen Pikiran Dan Perasaan

Manajemen Pikiran Perasaan
Manajemen Pikiran Perasaan

Manajemen Pikiran Dan Perasaan” adalah genre baru dalam dunia pengembangan diri, self help, self development, life skill, team and organisation skill, leadership skill, intrapersonal dan interpersonal skill.

Dapatkan di toko-toko buku terdekat di kota Anda. Atau, dapatkan di toko-toko buku online yang ada.

Dapatkan ebook gratis anak buku “Manajemen Pikiran Dan Perasaan” (promotional pdf).

Manajemen Pikiran Perasaan From Beliefs To Knowledge
Manajemen Pikiran Perasaan – From Beliefs To Knowledge

Semoga bermanfaat.

Leave a comment

Filed under Books, manajemen pikiran dan perasaan